Jumat, 07 April 2017

TRADISI NYADRAN

                
Nyadran adalah serangkaian kegiatan masyarakat
jawa disuatu daerah yang dilakukan satu tahun sekali  sebelum bulan puasa pada bulan ruwah, sya’ban (kalender jawa). Kegiatan ini dilakukan untuk mendoakan arwah para leluhur-leluhur desa yang telah meninggal di masa lampau. Nyadran sudah menjadi budaya dan tradisi masyarakat jawa. Sehari sebelum nyadran dilakukan pembersihan makam leluhur, dilanjut tabur bunga, dan slamatan.


Serangkaian kegiatan nyadran.
1. Menyelenggarakan kenduri, dengan pembacaan ayat Al-Quranzikirtahlil, dan doa, kemudian ditutup dengan makan bersama.

            Kegiatan ini dilakukan sebelum dan saat dilaksanaknya nyadran. Pada malam hari sebelum nyadran para laki-laki berkumpul di area makam. Membaca surat yasin, tahlil dan do’a. Besok paginya seluruh masyarakat baik laki-laki, perempuan, tua, anak-anak berkumpul bersama untuk melakukan kegiatan ini. Setelah acara selesai makanan yang sebelumnya dibawa oleh warga dibagikan kembali dan dimakan bersama-sama atau dibawa pulang


2. Melakukan besik, yaitu pembersihan makam leluhur dari kotoran dan rerumputan.

              Biasanya pembersihan makam leluhur dari kotoran, rumput yang tumbuh di lakukan sebelum acara nyadran dimulai. Satu hari sebelumnya.


3. Melakukan upacara ziarah kubur, dengan berdoa kepada roh yang telah meninggal di area makam.


              Kegiatan ini dilakukan saat dilaksanakanya nyadran. Atau biasanya juga sebelum acara nyadran kerabat atau keluarga korban ziarah ke makam keluarga atau orang yang mereka kenal dan mendoakanya dahulu.


Manfaat nyadran


               Dari kegiatan nyadran ini selain bersilaturahmi dan mempererat rasa kekeluargaan. kita juga sadar akan adanya hari akhir. Rosul juga berpesan dalam haditsnya “Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia berkata baik atau diam, siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia menghormati tetangganya dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya” (HR. Bukhori dan Muslim)


Walloohu a’lam.




















NB: nyatanya susah buat artikel . mohon maaf seandainya ada salah kata atau isi dalam artikel ini.♧




Tidak ada komentar:

Posting Komentar